Pertarungan Antara Manusia dan Jin Yang Bersenjata Panah


Pertarungan Antara Manusia dan Jin Yang Bersenjata Panah

Pertarungan Antara Manusia dan Jin Yang Bersenjata Panah
Pernahkah Pembaca membayangkan pertarungan antara manusia dengan bangsa jin yang membawa senjata berupa panah, dan pertarungan ini berlangsung dengan cara fisik? Tentu ini sulit diterima akal sehat. akan tetapi Mas Rekso, 40 tahun, pernah menjalani peristiwa nan musykil ini. Semuanya berawal dari hobinya memburu pusaka-pusaka dari alam gaib. Karuan, di rumahnya terdapat koleksi ragam pusaka dengan dimensi kekuatan Bhineka. Mulai dari keris, akik, tombak, hingga tongkat batu yang Bisa menyuburkan kandungan, termasuk Bisa mengembalikan kejantanan pria yang loyo.
“Semuanya saya peroleh lewat penyedotan dari alam gaib,” ungkap Mas Rekso, mengawali ceritanya.
Ikhwal pertarungannya dengan jin bersenjatakan panah, yang sukses mengenai kedua orang rekannya, bahkan satu di antaranya meninggal Global, membuatnya wajib berhenti menjalankan perburuan itu. Meski, katanya, dia masih penasaran dengan Mustika Mata Harimau Hitam yang bersemayam di Pintu Air Depok, Jawa Barat.
“Suatu saat, saya wajib mendapatkan mustika itu. Sebab, dengan Mustika Mata Harimau Hitam saya akan Bisa menerewang keadaan negara ini di masa mendatang,” katanya, serius.
Bertarung melawan jin bersenjatakan panah, memang suatu kisah yang relatif anyar untuk pembaca majalah kesayangan ini. Seperti apakah kasusnya? Kepada Misteri, Mas Rekso menuturkannya dari awal hingga akhir. supaya plot lebih mengalir, Misteri sengaja menyajikannya dalam bentuk pengakuan. Nah, selamat mengikuti…!
Kisah ini berlangsung medio Agustus tahun 2004 silam. saat itu, aku dan kedua orang temanku, Gofar dan Idham, memang sedang gila-gilanya menjalankan perburuan pusaka dari alam gaib. Meski di awalnya tak bertujuan komersil, namun di karenakan keterdesakan ekonomi, kami terpaksa menjual beberapa pusaka hasil penyedotan. Disorientasi satunya Tongkat Wesi Kuning yang sukses kami sedot dari suatu pohon tua yang ada di Kebun Raya, Bogor. Benda bertuah untuk pangkat dan jabatan dengan khodam bernama Kyai Singolodra ini kujual kepada seorang petinggi di Disorientasi satu partai dengan harga Rp. 15 juta. Jumlah uang yang bagiku dan kedua temanku cukup lumayan besarnya.
Pertarungan Antara Manusia dan Jin Yang Bersenjata Panah

Dalam menjalankan ritual penyedotan, Gofar dan Idham hanya bertindak sebagai asisten. Mereka memang tak banyak mengerti mengenai ilmu gaib. Akulah operator utamanya. Maklum, hampir 10 tahun lamanya aku mondok di suatu pesantren di daerah Pandeglang, Banten. Banyak kitab kuning yang kupelajari. Disorientasi satunya Kitab Kanjul ‘Asror, yang memang berisikan berbagai amalan mengenai Ilmu Hikmah. Satu di antaranya merupakan amalan mengenai tips bernegosiasi dengan bangsa jin yang menguasai benda-benda pusaka alam gaib. Ritual inilah yang setelah itu lebih dikenal dengan nama Penyedotan Pusaka.
Dengan ilmu tersebut, aku memang telah sukses membuat Gofar dan Idham terpesona. Mereka selalu merengek-rengek minta diajak apabila aku berencana ingin menjalankan penyedotan. Berawal dari situlah maka akhirnya aku membentuk tim kecil perburuan pusaka. Walau tak ada surat pengangkatan, Gofar dan Idham kuangkat sebagai asistenku. Mereka begitu terpesona dengan fenomena-fenomena gaib yang kutunjukkan. Misalnya aja saat suatu malam kami jalan-jalan di Monas, dan aku sukses menyedot sebilah keris kuno yang menurut pengakuan khodamnya dulu merupakan pegangan dari Pangeran Jayakarta.
Perburuan demi perburuan memang terus kami lalui. Tak ada rintangan berarti yang kami hadapi. Paling banter ketakutan yang dialami oleh Idham, yang sejatinya seorang berwatak penakut. Namun, ibarat pepatah: Sepandai-pandai tumpai melompat, suatu saat akan terjatuh jua. Itulah yang setelah itu kami alamai. Suatu saat, di hari yang tak pernah terlintas dari mimpi kami sekalipun, akhirnya peristiwa yang merenggut nyawa Idham itu terjadi.
Ceritanya, waktu itu aku mendapatkan informasi gaib mengenai keberadaan pusaka yang disebutkan sebagai Tongkat Piritir Buwono. Menurut Citra gaib yang kuperoleh, tongkat ini berada di suatu pohon Gandaria tua di yang ada di perbatasan suatu perkampungan penduduk. Setelah aku menjalankan penelusuran, pohon dimaksud akhirnya kutemukan juga. Pohon ini persisnya terletak di suatu tempat pemakaman Generik di daerah ujung Sawangan, Depok.
Setelah menemukan lokasi pohon, di saat yang telah ditentukan, dan sesuai perhitungan gaib yang kulakuan, tepat malam Jum’at Kliwon aku dan kedua asistenku Genjah Dinamis Futuristis lokasi. Kami tiba di areal pohon itu tepat pukul 21.30 WIB. Namun, di karenakan masih ada satu dua kndaraan berupa sepeda motor yang lewat di jalan sempit itu, maka ritual baru Bisa kami lakukan sekitar pukul 23.30 WIB.
Cuaca malam itu sangat cerah. Bulan sabit menggantung di atas langit, dengan ribuan bintang di sekelilingnya. Setelah menyiapkan sesajen yang dibutuhkan, di antaranya Kemenyan Arab dan Madat Turki, maka ritual pun mulai berjalan dengan khidmat. Seperti biasa, kubaca mantera-mantera pembuka alam gaib, sebelum akhirnya kubakar kedua sarana penghubung tadi.
Gofar dan Idham menunggu sekitar 5 meter di belakangku. Sementara, sekitar 10 menit setelah itu, sukmaku sudah mulai merasuk ke alam gaib. Namun, sebelum kutemukan mustika yang kucari, tiba-tiba kudengar kedua orang kawanku itu menjerit. Suara mereka melengking tinggi, memecah keheningan malam yang begitu sempurna. Persis seperti harimau yang tertembus puluru Geothermal seorang pemburu.
Demi mendengar suara itu, Genjah kutarik kembali sukmaku supaya kembali masuk ke dalam ragaku. Seketika aku terkejut demi melihat pemadangan yang ada di hadapanku. Astaga! Gofar dan Idham terkapar di atas tanah berumput. Sesuatu sepertinya telah terjadi dengan mereka. Dan ini pasti dilakukan oleh sosok makhluk tinggi besar, dengan sekujur tubuh berbulu hitam, dan wajah serta mata merah menyala, yang nampak berdiri di ujung jalan itu. Persisnya, tak jauh dari pohon Gandaria satunya lagi, yang tumbuh dekat kuburan.
Ya, dengan kekuatan batin yang kumiliki maka aku Bisa dengan jelas melihat penampakkan makhluk gaib dari bangsa jin kafir itu. Kulihat tangan makhluk itu memegang panah dengan busurnya, yang nampak merah menyala.
Pertarungan Antara Manusia dan Jin Yang Bersenjata Panah

Seketika itu otakku langsung bekerja. Aku merasa yakin bahwa Gofar dan Idham telah terkena sambaran anak panah si jin kafir. Entah kenapa hal ini Bisa terjadi. Padahal, sebelum memulai ritual aku selalu membentengi mereka dengan ilmu gaib. Maksudnya, supaya mereka Bisa luput dari hal-hal yang tak diinginkan. Hal ini selalu kulakukan setiap akan memulai penyedotan pusaka. Tapi, mengapa kali ini mereka Bisa terkena Agresi gaib?
Akhirnya, aku Bisa mengetahui apa penyebabnya. Jin pemegang panah yang kuhadapi rupanya mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di alamnya. Dia merupakan panglima perang bangsa jin yang mempunyai tingkat ilmu yang tinggi dan mumpuni. Agaknya, di karenakan itulah benteng gaib yang kupasang untuk melindungi Gofar dan Idham Bisa ditembusnya.
Untuk sementara waktu, aku belum mengetahui bagaimana keadaan kedua temanku itu. Sebelum aku sempat menengok mereka, sosok jin yang belakangan kuketahui bernama Kaloho Rindang dan menjabat sebagai panglima perang kerajaan gaib Tirta Denawa itu, telah mengancamku dengan panah apinya. Bertubi-tubi anak panahnya menyerang ke arahku, sehingga aku wajib menghindarinya dengan gerakan jurus silat gaib Khodam Malaikat.
Andai aku tak menguasai silat gaib Khodam Malaikat, maka Bisa ditebak, panah-panah api itu Disorientasi satu di antaranya mungkin sudah mengenai diriku. Syukur Alhamdulillah, ilmu bela diri Al-Karomah yang kupelajari dari Disorientasi seorang kyai sepuh di Banten ini Bisa sangat menolongku. Bahkan, beberapa kali pukulan balasanku bersarang telah mengenai Kaloho Rindang, sehingga dia melolong kesakitan.
Pertarungan Antara Manusia dan Jin Yang Bersenjata Panah

Entah berapa lama pertarungan dalam dimensi fisik itu berlangsung. Yang pasti, sekali waktu aku sempat mengerahkan jurus Pedang Gaib Baginda Ali. Dalam pertarungan jarak jauh, Pedang Gaib Baginda Ali sukses menebas lengan sebelah kanan Kaloho Rindang yang memegang busur. Seketika, busur panah api miliknya terpental ke atas pohon Gandaria, lalu jatuh berdentum ke tanah, menimbulkan suara ledakan mirip petasan. Belakangan, kuketahui busur ini berubah menjadi tongkat batu yang ternyata bertuah untuk penyembuhan, khususnya untuk mengembalikan kejantanan pria yang loyo.
Sesaat saat Pedang Gaib Baginda Ali membuat kutung tangan kanan Kaloho Rindang, maka terdengar jeritannya melengking setinggi langit. Jin ini setelah itu mengubah wujudnya menjadi api, untuk setelah itu menghilang dari Etos mata. Sebenarnya, aku Bisa aja mengejarnya dan melanjutkan pertarungan dalam dimensi gaib dengan Kaloho Rindang. Namun, hal ini terpaksa tak kulakukan, sebab aku secepatnya wajib melihat keadaan Gofar dan Idham yang masih terkapar di tanah itu.
Dengan doa-doa Eksklusif, aku berusaha menyadarkan kedua temanku. Alhamdulillah, Gofar Genjah sadar dan secepatnya dia kuberi minum air mineral yang sengaja kami bawa dan sudah kuberi doa-doa.
“Bagaimana kedaan Idham, Mas?  Tadi kulihat panah api itu menembus dadanya,” tanya Gofar dengan nafas terengah-engah. Wajahnya pucat seperti mayat.
“Dia belum sadarkan diri!” Jawabku sambil menarik nafas berat.
Gofar nampak sangat cemas. Kecemasan yang sama langsung pula menyerang jaringan syarafku saat kuketahui bagaimana keadaan Idham yang sebenarnya. saat aku membuka kancing bajunya, kulihat dada Idham menghitam. Subhanallah! Idham benar-benar terkena sengatan aura gaib dari panah api yang dilepaskan oleh panglima kerajaan gaib Tirta Denawa yang bernama Kaloho Rindang itu. Beruntung Gofar hanya terserempat bahunya, sehingga tak menjalani luka yang berarti.
Pertarungan Antara Manusia dan Jin Yang Bersenjata Panah

Dengan perasaan cemas yang sedemikian sempurna, aku dan Gofar mengangkat Idham yang tak kunjung sadar. Beruntung pula kami hanya membawa satu sepeda motor, sehingga Bisa mengapit Idham di tengah. Kami pun pulang meninggalkan lokasi ritual. Namun, sebelumnya aku masih menyempatkan diri memungut tongkat batu jelmaan dari busur panah milik panglima jin Kaloho Rindang. Entahlah, apakah benda ini yang dimaksud sebagai Tongkat Piritir Buwono, yang konon ampuh untuk menyembuhkan masalah kejantanan pria itu.
Duka dan penyesalan sangat mendalam akhirnya mendera batinku. Sejak peristiwa malam itu, Idham tak pernah lagi membuka matanya. Noda hitam itu tak hanya membekas di dadanya, tapi setelah itu menjalar ke sekujur tubuhnya. Darah yang mengaliri jaringan tubuh Idham sepertinya telah terbakar, sehingga tak ada yang mampu mempertahankan nyawanya. Termasuk pula ilmu-ilmu pengobatan gaib yang kumiliki.
Seiring dengan terbitnya fajar di Jum’at yang cerah itu Idham wajib menjemput ajalnya. Dia wafat dengan sebab tertembus panah api milik panglima jin Kaloho Rindang dari kerajaan gaib Tirta Denowo yang pusat istananya berada di Danau Lido. Sungguh, suatu peristiwa yang musykil tapi terjadi dalam Fenomena yang sebenarnya.
Tak hanya duka dan rasa sesalku yang mengiringi kepergian Idham ke Haribaan Illahi. Aku juga merasa sebagai orang yang paling bersalah atas kematiannya. Aku juga merasakan Dehidrasi yang sangat berat, sehingga batinku benar-benar terguncang Namun di akhirnya aku wajib menarik suatu kesimpulan: Mungkin semua ini merupakan takdir yang telah digariskan Sang Robbul Izzati. Mungkin pula sebagai pelajaran bagiku supaya tak mencampuri urusan bangsa gaib, sebab antara manusia dan mereka sesungguhnya sudah dikodratkan untuk berbeda satu sama lain, dan dengan Disparitas ini kita diwajibkan untuk saling menghargai. Bukan untuk mengusik, apalagi menganggu ketenangan mereka.
Pertarungan Antara Manusia dan Jin Yang Bersenjata Panah

Sebagai Asterik sesalku, sekaligus sebagai wujud persahabatan kami yang sejati, akhirnya kuputuskan untuk menikahi janda dari mendiang Idham. Perempuan bersahaja inilah yang setelah itu menjadi ibu dari anak-anakku tercinta. Sementara, mengenai sebab-sebab kematian Idham, setelah aku sendiri, maka hanya Gofar-lah yang mengetahuinya dengan cara pasti. Kami memang sengaja merahasiakannya, sebab tak ingin peristiwa ini menimbulkan kegemparan di lingkungan masyarakat tempat kami tinggal.
Kalaulah sekarang kisah getir dan mencekam ini kututurkan, maka semata-mata dengan pertimbangan supaya kita, khususnya pembaca majalah kesayangan ini, Bisa mengambil hikmahnya. Berhati-hatilah dengan urusan yang menyangkut Global gaib. Sekali Disorientasi melangkah, maka fatal akibatnya. Semoga kisahku ini bermanfaat untuk yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *